Selasa, 15 Januari 2013

SEPENGGAL CERITA: Orchidaceae

-Lanjutan-

Membuat buku tentang Bunga Anggrek bukan perkara mudah. Kami kira di taman anggrek itu akan ada nama-nama bunga dan spesiesnya tapi ternyata kami salah. Pertama kami ke Taman Anggrek Ragunan. Di sana berjejer puluhan kavling yang kami kira berisi bunga anggrek semua tapi ternyata tidak dan hanya ada bunga berpot-pot kecil yang tak diberi nama. Bertanya pada penjaga pun mereka tak begitu tahu, yang mereka tahu hanya Anggrek Bulan yang belakangan ini aku tahu nama latinnya adalah Phalaenopsis.
Padahal tadinya aku sudah senang melihat keindahan anggrek-anggrek di sana, sempat padam rasanya semangatku membuat buku anggrek. Namun teknologi kan sudah maju, aku bisa mencari nama-nama bunga ini di internet.

Jadilah kami memotret bunga-bunga indah ini, yang penting fotonya dulu, urusan nama belakangan. begitu pikir kami. Untungnya ada satu kavling bernomor 10 yang mengoleksi dan merawat 3 jenis anggrek, yaitu anggrek bulan, anggrek dendrobium dan anggrek vanda. Walaupun tidak secara spesifik, itu menjadi acuan kami mengenal anggrek pada mulanya. Dari ratusan foto yang telah kami ambil, kami harus menyelekesi lagi sekiranya mana yang bagus dan layak dimasukan ke dalam buku kami.

Selanjutnya Amanda mengumpulkan beberapa foto bunga dari Taman Anggrek Indonesia Permai. Dan kami mulai menyusun buku H-4 pengumpulan, 8 Januari. Pada kerja kelompok pertama di Kost Dian, tidak banyak yang kami kerjakan, karena kendala sinyal modem :/ Sepulang dari kost dian, kami menyempatkan ke toko buku gramedia, melihat-lihat buku anggrek sebagai referensi dan banyak yang kami dapat di sana.
Baru keesokan harinya kami bersungguh-sungguh mengerjakan buku. Aku hanya sampai jam 5 sore ikut kerja kelompok karena malam harinya di rumah akan ada acara. Laptop-ku aku tinggal di rumah teman karena mereka menyusun buku dengan laptop-ku yang sudah tua ini.

Sekitar pukul 10 malam mereka menyudahi kerja kelompoknya, dan kami berencana melanjutkan esok harinya. Sungguh di kejar deadline karena Selasa sudah harus ada di tangan dosen. Malam hari aku melanjutkan mengerjakan di rumah, mengoreksi dan menambahkan yang aku bisa. Besoknya benar-benar harus kerja cepat. Kami selesai mengerjakannya selepas Adzan Maghrib dan langsung ke percetakan. Tentunya tak semudah itu, di percetakan kami kembali menghadapi masalah, file yang sudah aku pindahkan ke flashdisk tak bisa terbaca, untungnya batre laptopku masih tersisa dan bisa aku pindahkan ulang. Kami menunggu lama sekali, namun hasil yang pertama kurang memuaskan, akhirnya kami mencetak satu buku lagi dengan hardcover. Dan baru esok hari Jam 3 sore kami bisa mengambilnya. sungguh waktu yang sangat mepet. Untungnya kami bisa melaluinya :)

Kulit Depan

Kulit Belakang


Sayang sekali aku tidak sempat mengabadikan buku yang sudah jadi karena langsung dikumpulkan. PANDA Publishing merupakan singkatan dari nama kami, Panji Amanda Nurul Denny Albert. Semoga saja nilai buku kami baik. Amin :')

SEPENGGAL CERITA

Tahun sudah berganti dan aku masih saja belum bisa menjalankan niatku seutuhnya, sepenuhnya. Entahlah... meluangkan waktu untuk lebih banyak menulis masih sulit buatku. Jika tidak karena tugas jarang sekali aku memainkan pena atau membuka laptop. Hanya bermalas-malasan saja. Bermain dengan ponsel atau bahkan tidur seharian di rumah. Apalagi sekarang sedang musim hujan, padahal aku sedang libur kuliah karena sepekan hari lalu telah menyelesaikan Ujian Akhir Semester 3. Tinggal menunggu hasil, enatahlah lebih baik dari semester lalu atau tidak.

Memang hanya sebuah alibi menjadikan hujan untuk bisa bermalas-malasan, cuaca memang mendukung untuk tetap berada di dalam gulungan selimut sembari memeluk guling. Dan aku sudah beberapa bulan ini tidak berkicau di blog.

Beberapa bulan ini memang aku sibuk sekali dengan tugas kuliah. Tugas matakuliah fotografi mengharuskan kami membuat sebuah buku. Tugas itu diberikan dosen beberapa bulan lalu setelah kami Ujian Tengah Semester, tak ada tema khusus yang penting buku yang di dalamnya berisi foto jepretan kami. Aku bersama kelompokku semula berfikir untuk membuat buku tentang sesuatu yang ada di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) entah itu museum atau apapun. Awal-awal baru diberikan tugas kami sudah menyusun rencana untuk pengambilan gambar di sana dan akhir pekan semua ke TMII untuk foto.

Hari Sabtu kami berangkat, aku dibonceng oleh Amanda dari Depok. Dunia Air Tawar dan Serangga yang ada di TMII menjadi tujuan pertama kami. Namun saat memutari TMII kami melihat Museum Penerangan dan tertarik untuk masuk. Di depan museum ini ada patung seseorang memegang kamera, seperti profesi jurusan kami Jurnalis. Kami kira Museum Penerangan ya tentang sejarah lampu atau bagaimana, tapi ternyata tidak. Di sini diceritakan tentang Pers, bahkan ada video Tsunami Aceh yang diambil oleh kamera wartawan SCTV jika aku tak salah ingat.

Cukup lama kami di Museum Penerangan, dan setelahnya kembali mencari tujuan utama kami Dunia Air Tawar dan Serangga. Namun kami sempatkan istirahat makan karena hari sudah siang dan perut mulai keroncongan. Tak di sangka saat kami sedang istirahat turun hujan. Kami berteduh dibawah meja payung namun tetap saja terkena basahan air hujan. Aku dan Amanda memakai helm karena takut helm yang kami bawa basah, sungguh lucu karena semula ini ide Amanda dan aku mengikutinya.

Akhirnya kami berhasil masuk ke Dunia Air Tawar dan Serangga walau dengan sedikit basah. Aku baru pertama kali ke sana, dan di sana cukup bagus tempatnya. Banyak ikan, tentu saja. Ada satu ikan yang lucu menurutku, namanya Ikan Kakak Tua, seperti nama burung. Ah sayang sekali aku lupa meng-copy foto ikan itu, jadi tak bisa aku tunjukan di sini. Hampir semua biota air tawar kami abadikan dalam foto. Semakin banyak semakin bagus, agak sulit mengambil gambar dengan angle ikan yang bagus. Pencahayaan di sana juga redup, dan tak bagus jika menggunakan flash kamera. Namun hasil foto yang telah diambil kamera terlihat bagus. Di serangga an Taman Kupu-kupu kami hanya sebentar saja, duduk-duduk dan pulang. Saat pulang cuaca mendung dan akhirnya aku kehujanan di jalan. Untungnya tidak sakit.

Saat hari Selasa, dua rekan kelompokku menunjukan hasil foto kami kepada dosen sekalian berkonsultasi tentang buku yang akan kami buat. Sudah bagus, hanya perlu beberapa editan untuk menghilangkan paralon-paralon di dalam aquarium. Namun, beberapa pekan berlalu dan tak ada yang mengedit foto itu. Aku tidak terlalu ahli menggunakan Photoshop untuk mengedit foto. Jadilah foto-foto itu terbengkalai sampai waktu pengumpulan buku tinggal 2 minggu lagi dan kami tidak ada kemajuan.

Aku melihat foto-foto di laptop dan ternyata hasilnya kurang memuaskan, akhirnya aku mengajak teman sekelompokku berdiskusi tentang tugas kami. Aku ingin tema buku di ubah, aku ingin membuat buku tentang bunga anggrek. Yang lain setuju dan mulai mencari lokasi taman anggrek di sekitar JABODETABEK. Akhirnya kami menemukan 2 tempat, Taman Anggrek Ragunan dan Taman Anggrek Indonesia Permai. Dalam waktu dua minggu, kami ngebut mengerjakan tugas ini. Kelompok yang lain bahkan kaget mengetahui kami ingin memulai dari awal lagi. Tapi untuk hasil yang lebih baik tidak ada salahnya mencoba. Tak ada yang tahu hasilnya sebelum mencoba.

Senin, 15 Oktober 2012

TITIK BALIK

Selama ini tak tahu apa yang aku tulis itu baik atau tidak, bagus atau tidak, benar atau tidak.
Hanya menulis saja, mengalir apa adanya. Aku suka menulis. Tapi terkadang aku tersendat untuk menuangkan apa yang aku pikirkan dan aku rasakan ke dalam sebuah tulisan. Buntu untuk melanjutkan apa yang sudah aku mulai sering kali terjadi.
Kalau saja file-file cerpen dan novel yang sudah pernah ku tulis dulu masih ada, ingin aku baca kembali dan aku koreksi. Ingin aku jadikan tolak ukur kemampuan menulisku sudah berkembang atau jalan di tempat.

Lebih dari sepekan lalu, tepatnya hari Kamis 4 Oktober aku mendapat tugas menulis cerpen dari dosen mata kuliah Penulisan Fiksi.
Kami hanya diberikan waktu dua jam untuk menuliskan apa yang ada dalam imajinasi kami, tema bebas, kami bisa membuat cerita yang di luar nalar manusia lain.
Tapi aku hanya menulis kisah percintaan biasa. Kisah yang diilhami dari kisah nyata seorang teman yang aku bumbui dengan imajinasiku sendiri.
Awalnya aku tersendat untuk menuliskannya, memakan waktu lima belas menit untuk aku memulai mengetik cerita. Teman-temanku yang lain dengan lancar menuliskan fiksi mereka masing-masing.
Mereka sudah satu lembar halaman aku masih seperempatnya. Mungkin kemampuanku menuangkan cerita masih di bawah kemampuan teman-temanku.

Waktu dua jam rasanya tidak cukup buatku, di menit-menit akhir deadline waktu yang diberikan, aku masih berusaha membuat akhir cerita yang bagus dan terkesan nyambung dengan awal ceritanya. Teman yang lain sudah sibuk menyimpan data di flashdisk dan mem-prin out-nya.
Tak terlalu aku pikirkan apakah cerpenku ini menarik atau tidak, yang aku pikirkan adalah aku bisa menyelesaikannya dan sampai tepat waktu di tangan dosen. Cerpen yang aku beri judul TAK SEHARUSNYA itu pun selesai.

Sepekan berlalu, ada desas-desus bahwa cerpen yang kami buat minggu lalu sudah selesai di nilai dan nanti saat kelas Penulisan Fiksi, dosen kami akan mengomentari cerita pendek yang sudah kami buat. Dan kabar menyenangkannya adalah akan ada hadiah buku kumpulan cerpen karangan dosen kami bagi yang cerpennya dinilai baik dan memenuhi syarat cerpen.
Saat jam pelajaran beliau membawa tas kulit berbentuk amplop lalu beliau taruh di meja. Ada setumpukan kertas A4 berwarna putih yang kami tahu adalah print out  cerpen kami minggu lalu. Beliau membuka kelas seperti biasa. Beliau mulai mengomentari tugas kami, tidak di sebutkan satu-stu, hanya garis besarnya saja. Beliau memuji kelas kami yang tepat waktu menyelesaikan tugas, tidak seperti kelas lain yang hanya sebagian  mahasiswanya yang tepat waktu.
Namun, dibanding kelas lain di kelas kami hanya dua orang yang sekiranya layak mendapatkan hadiah.
Aku sudah pasrah, apalagi saat menyebutkan tema cerita yang dikumpulkan kepada beliau, beliau tak menyinggung cerpen milikku. Tapi tetap saja aku ingin tahu siapa di antara kami yang beruntung mendapatkan buku karangan beliau.

Tiba-tiba namaku dipanggil. Aku terdiam sampai beliau mengira nama itu tak hadir di kelas. Aku bangkit dari dudukku dan berjalan ke depan untuk menerima hadiah buku. Buku berjudul Nasihat-Nasihat Cinta karya Adek Alwi. Sungguh tak disangka. Setelah aku, satu temanku dipanggilnya dan kami diminta membacakan cerpen yang kami buat. Aku yang pertama membacakan karyaku. Aku ambil kursi, aku letakkan di sebelah meja dosen dan mulai membacakan cerita pendekku yang benar-benar pendek. Hanya tiga setengah lembar A4, Calibri 12 dengan dua tokoh utama Marsha dan Aldri. Suaraku agak gemetar saat membacakannya, ada sebait lagu di dalamnya dan aku harus menyanyikannya sedikit agar lagu yang mendukung latar ceritaku tersampaikan.

Sungguh sebuah kesenangan bagiku, seperti karyaku dihargai. Selama ini aku tidak tahu apa yang aku tuliskan itu memang benar atau tidak, seperti yang sudah aku ungkapkan di awal postingan ini. Beliau bilang, aku bisa menyajikan latar ceritaku dengan baik, sedikit mendeskripsikan setting tempat dan waktu, karakter tokoh atau penokohan pun aku sajikan dengan cukup baik dengan adanya beberapa dialog. Konflik yang terjadi pun digambarkan dengan apik. Walau hanya cerita pendek, tapi aku bisa menyampaikan kepada pembacaku maksud dan tujuan aku menuliskan cerita itu.

Sejak saat itu, keinginanku menjadi seorang penulis tumbuh kembali, aku merasa aku memiliki bakat dibidang ini yang tentunya harus aku asah agar tetap tajam dan semakin tajam supaya tak semakin tumpul. Semakin banyak berlatih maka aku akan semakin terbiasa untuk menulis, namun tetap saja dibutuhkan inspirasi, imajinasi dan ide untuk membuat sebuah karya. Dan aku harus komitmen dengan keinginanku. Harus ada motivasi seperti yang selalu disampaikan Dosen Manajemen Editorial, Pak Djony, agar tidak timbul keragu-raguan dalam diri. Semoga aku bisa. Dan pasti bisa!


MAN JADDA WAJADDA

Senin, 03 September 2012

Ingin Menulis Lagi

Mulai kembali mikirin buat nulis di blog di semester 3 kuliah ini, yeaay gue udah semester 3 haha
cerita-cerita di semester dua aja ngga sempet ditulisin di blog ini, karena udah ngga langganan beli paket modem lagi, buka laptop aja males benget.
Ini juga bisa posting karena dapet bonus internetan dari operator selular gue terus kartunya dipindahin ke modem hahaha dasar ngga modal :")

Semester ini sepertinya akan lebih banyak tugas menulis dan membuat buku. Semester lalu gue dapet tugas membuat buku ortografi dari dosen bahasa Indonesia yang gue beri judul Goresan Tinta Kehidupan dan cukup keteteran karena males-malesan ngerjainnya, banyak cerita yang ngalur ngidul banget, gue udah ngga biasa menulis. Padahal dulu jaman SMP rajin banget bikin cerita-cerita fiksi, sayang soft copynya harus dimakan virus hiks jadi ngga ada yang bisa dikenang dan dibaca ulang. Kalo di inget-inget udah banyak banget gue bikin cerpen bahkan novel, walaupun banyak yang mandek di tengah jalan haha
Dulu pernah bikin novel yang judulnya Akhir Komunikasi 16/08, sampe udah gue print out dan ikutan lomba novel saat workshop film jaman SMP, sayang aja ngga gue seriusin bener-bener. Sekarang ini jadi males banget, ngga ada minta bikin karya fiksi kayak dulu.

Kayaknya di postingan gue kali ini banyak kata males banget, mungkin ini saatnya gue kembali menjadi diri gue yang dulu, yang semangat buat nulis, yang berkeinginan menjadi penulis handal. ayo semangat ulil! hahaha jangan niat doang ya, harus di praktekin juga bener-bener. Apalagi kan sekarang udah makin dewasa udah banyak dapet pelajaran menulis, semoga aja kualitas menulis gue bisa lebih baik nantinya. Amin!

AYO BUDAYAKAN MENULIS SEJAK DINI, MAN JADDA WAJADDA LIL!!
(Apapula ini ending postingannya)