Senin, 15 Oktober 2012

TITIK BALIK

Selama ini tak tahu apa yang aku tulis itu baik atau tidak, bagus atau tidak, benar atau tidak.
Hanya menulis saja, mengalir apa adanya. Aku suka menulis. Tapi terkadang aku tersendat untuk menuangkan apa yang aku pikirkan dan aku rasakan ke dalam sebuah tulisan. Buntu untuk melanjutkan apa yang sudah aku mulai sering kali terjadi.
Kalau saja file-file cerpen dan novel yang sudah pernah ku tulis dulu masih ada, ingin aku baca kembali dan aku koreksi. Ingin aku jadikan tolak ukur kemampuan menulisku sudah berkembang atau jalan di tempat.

Lebih dari sepekan lalu, tepatnya hari Kamis 4 Oktober aku mendapat tugas menulis cerpen dari dosen mata kuliah Penulisan Fiksi.
Kami hanya diberikan waktu dua jam untuk menuliskan apa yang ada dalam imajinasi kami, tema bebas, kami bisa membuat cerita yang di luar nalar manusia lain.
Tapi aku hanya menulis kisah percintaan biasa. Kisah yang diilhami dari kisah nyata seorang teman yang aku bumbui dengan imajinasiku sendiri.
Awalnya aku tersendat untuk menuliskannya, memakan waktu lima belas menit untuk aku memulai mengetik cerita. Teman-temanku yang lain dengan lancar menuliskan fiksi mereka masing-masing.
Mereka sudah satu lembar halaman aku masih seperempatnya. Mungkin kemampuanku menuangkan cerita masih di bawah kemampuan teman-temanku.

Waktu dua jam rasanya tidak cukup buatku, di menit-menit akhir deadline waktu yang diberikan, aku masih berusaha membuat akhir cerita yang bagus dan terkesan nyambung dengan awal ceritanya. Teman yang lain sudah sibuk menyimpan data di flashdisk dan mem-prin out-nya.
Tak terlalu aku pikirkan apakah cerpenku ini menarik atau tidak, yang aku pikirkan adalah aku bisa menyelesaikannya dan sampai tepat waktu di tangan dosen. Cerpen yang aku beri judul TAK SEHARUSNYA itu pun selesai.

Sepekan berlalu, ada desas-desus bahwa cerpen yang kami buat minggu lalu sudah selesai di nilai dan nanti saat kelas Penulisan Fiksi, dosen kami akan mengomentari cerita pendek yang sudah kami buat. Dan kabar menyenangkannya adalah akan ada hadiah buku kumpulan cerpen karangan dosen kami bagi yang cerpennya dinilai baik dan memenuhi syarat cerpen.
Saat jam pelajaran beliau membawa tas kulit berbentuk amplop lalu beliau taruh di meja. Ada setumpukan kertas A4 berwarna putih yang kami tahu adalah print out  cerpen kami minggu lalu. Beliau membuka kelas seperti biasa. Beliau mulai mengomentari tugas kami, tidak di sebutkan satu-stu, hanya garis besarnya saja. Beliau memuji kelas kami yang tepat waktu menyelesaikan tugas, tidak seperti kelas lain yang hanya sebagian  mahasiswanya yang tepat waktu.
Namun, dibanding kelas lain di kelas kami hanya dua orang yang sekiranya layak mendapatkan hadiah.
Aku sudah pasrah, apalagi saat menyebutkan tema cerita yang dikumpulkan kepada beliau, beliau tak menyinggung cerpen milikku. Tapi tetap saja aku ingin tahu siapa di antara kami yang beruntung mendapatkan buku karangan beliau.

Tiba-tiba namaku dipanggil. Aku terdiam sampai beliau mengira nama itu tak hadir di kelas. Aku bangkit dari dudukku dan berjalan ke depan untuk menerima hadiah buku. Buku berjudul Nasihat-Nasihat Cinta karya Adek Alwi. Sungguh tak disangka. Setelah aku, satu temanku dipanggilnya dan kami diminta membacakan cerpen yang kami buat. Aku yang pertama membacakan karyaku. Aku ambil kursi, aku letakkan di sebelah meja dosen dan mulai membacakan cerita pendekku yang benar-benar pendek. Hanya tiga setengah lembar A4, Calibri 12 dengan dua tokoh utama Marsha dan Aldri. Suaraku agak gemetar saat membacakannya, ada sebait lagu di dalamnya dan aku harus menyanyikannya sedikit agar lagu yang mendukung latar ceritaku tersampaikan.

Sungguh sebuah kesenangan bagiku, seperti karyaku dihargai. Selama ini aku tidak tahu apa yang aku tuliskan itu memang benar atau tidak, seperti yang sudah aku ungkapkan di awal postingan ini. Beliau bilang, aku bisa menyajikan latar ceritaku dengan baik, sedikit mendeskripsikan setting tempat dan waktu, karakter tokoh atau penokohan pun aku sajikan dengan cukup baik dengan adanya beberapa dialog. Konflik yang terjadi pun digambarkan dengan apik. Walau hanya cerita pendek, tapi aku bisa menyampaikan kepada pembacaku maksud dan tujuan aku menuliskan cerita itu.

Sejak saat itu, keinginanku menjadi seorang penulis tumbuh kembali, aku merasa aku memiliki bakat dibidang ini yang tentunya harus aku asah agar tetap tajam dan semakin tajam supaya tak semakin tumpul. Semakin banyak berlatih maka aku akan semakin terbiasa untuk menulis, namun tetap saja dibutuhkan inspirasi, imajinasi dan ide untuk membuat sebuah karya. Dan aku harus komitmen dengan keinginanku. Harus ada motivasi seperti yang selalu disampaikan Dosen Manajemen Editorial, Pak Djony, agar tidak timbul keragu-raguan dalam diri. Semoga aku bisa. Dan pasti bisa!


MAN JADDA WAJADDA